“The Fault in Our Stars” Kisah Cinta yang Akan Memainkan Gejolak Emosi Kita | Movie Review

Posted by
June 15, 2014

the-fault-in-our-stars-pstr01

Bukti bahwa sebuah film berhasil menjadi sebuah karya baik yang layak untuk diapresiasi adalah, kemampuannya dalam mempermainkan gejolak emosi penonton. “The Fault in Our Stars” telah membuktikan bahwa sebuah film mengenai percintaan remaja ternyata tidak hanya membuat penonton merasa terhanyut ke dalam suasana romantis, tetapi juga lika liku perjalanan 2 manusia yang berjuang di tengah kehidupan. Jika kita memiliki perasaan, kata-kata sifat berikut ini dapat menggambarkan emosi yang akan dirasakan setelah menyaksikan film yang diangkat dari novel karya John Green ini: sedih, senang, terpesona, khawatir, depresi, lega dan bahagia.

Hazel Grace Lancaster adalah seorang remaja berusia 16 yang pasrah dengan kehidupan karena kondisi tubuhnya yang kritis akibat dari kanker tiroid. Hazel menyadari bahwa hidupnya tidak akan berlangsung lama, dan hal ini membuatnya mengasingkan diri dari dunia luar. Kedua orang tua Hazel yang sangat peduli dengan putri mereka, tidak membiarkannya menyia-nyiakan sisa kehidupan dalam keadaan yang memprihatinkan dan depresi. Mereka meminta Hazel untuk mencari teman baru dengan mendaftarkannya dalam sebuah grup pendukung yang terdiri dari para penderita penyakit kanker.

Kahidupan Hazel yang cenderung datar, berubah total setelah ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Augustus Waters di pertemuan grup pendukung tersebut. Grace yang kesehariannya hanya ditemani oleh kedua orang tuanya, kini diisi dengan berbagai kegiatan bersama Augustus. Tidak hanya mengisi kehidupan Grace dengan kegiatan-kegiatan yang menarik, Augustus juga secara perlahan-lahan membuat Grace jatuh hati. Kini, 2 remaja yang mengalami pengalaman yang serupa ini, akan merasakan perjalanan hidup yang luar biasa. Mampukan Hazel dan Augustus mengatasi berbagai tantangan kehidupan yang menguji cinta sejati mereka.

A Fault In Our Stars

“The Fault in Our Stars” menghadirkan penampilan akting yang sangat menyetuh dari 2 bintang utamanya, Shailene Woodley dan Ansel Elgort. Shailene dengan sukses menjiwai peran Hazel Grace yang cuek namun sebenarnya memilki kepedulian tinggi terhadap kehidupan dan juga kedua orang tuanya. Sementara Ansel Elgort akan mencuri perhatian dari para wanita dengan pesona dan juga sensitifitasnya yang tinggi. Chemistry romansa yang dibangun oleh Shailene dan Ansel sebagai Hazel dan Augustus menjadi jiwa yang menjaga film “The Fault in Our Stars” berdiri tegak sebagai salah satu film percintaan remaja paling romantis sepanjang masa.

Salah satu unsur yang membedakan “The Fault in Our Stars” dengan berbagai karya film romansa klise lainnya adalah materi dasar novel yang ditulis oleh John Green memiliki kepekaan yang unik. Sudut pandangnya yang tidak sama terhadap pendekatan sisi romansa dan gaya komedi tanpa basa basi dalam melihat keadaan realitas kehidupan yang sesungguhnya. John Green tidak menghadirkan sosok heroisme yang sempurna dalam diri Augustus Waters dan juga Hazel Grace. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan yang dianggap wajar sebagai 2 manusia yang dihadapkan pada situasi keras kehidupan.

A Fault In Our Stars

Kolaborasi sutradara Josh Boone dengan 2 penulis, Scott Neustadter & Michael H. Weber dalam mengolah novel “The Fault in Our Stars,” berhasil menghargai keaslian nilai-nilai dan jiwa yang dihadirkan oleh John Green. Para nerd fighters yang menggemari novelnya dijamin akan tidak kalah cinta dengan bentuk visualnya.

Musik juga menjadi faktor yang membentuk jiwa dari film “The Fault in Our Stars.” Berbagai lagu-lagu soundtrack dalam film ini tidak sekedar menjadi tempelan apa adanya untuk memperindah suasana film, tetapi menyaru sebagai latar yang membangun mood cerita. Berbagai lagu berirama Pop Rock, Folk dan Hip/Hop bergantian mengisi adegan-adegan indah, menyenangkan, sedih dan mengharukan dari Hazel dan Augustus. Karya musik yang dihadirkan, memang telah disiapkan secara khusus untuk film ini oleh berbagai musisi berbakat, seperti: Ed Sheeran, Grouplove, Charlie XCX, Jake Bugg, Birdy, Lykke Li, Tom Odell, dan masih banyak lagi.

the-fault-in-our-stars02

Bersiaplah untuk merasa sedih, senang, terpesona, khawatir, depresi, lega dan bahagia saat menyaksikan film “The Fault in Our Stars.” Hampir setiap 5 menit, emosi penonton akan dimainkan dengan adegan atau dialog yang dijamin membuat kita tertawa ataupun menangis. Jika perasaan kita tidak disentuh saat menyaksikan “The Fault in our Stars,” mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah kita masih memiliki jiwa atau tidak.

Photo & Trailer Credits: 20th Century Fox Indonesia

Comments and 4,319 views

Gia Adhika

I work in the entertainment, publishing & social media industry. Observes & writes about it. Author of ONE DIRECTION The Unofficial Book & Buku Pop Superstars.

Related Posts

COMMENT

Leave a Reply