“Krampus,” Kisah Horror Mencekam di Malam Natal │ Movie Review

December 4, 2015

maxresdefault

Perayaan Natal biasanya dihiasi oleh film-film bertema kekeluargaan yang penuh kebahagiaan, seperti semangat Hari Raya itu sendiri. Namun sutradara Michael Dougherty menawarkan hal yang sedikit berbeda untuk Natal tahun ini melalui film Krampus.” Film produksi Legendary Pictures dan Universal Pictures ini masih membawa pohon Natal dan berbagai hadiah yang ada di bawahnya, namun dengan cara yang berbeda.

Diangkat dari cerita rakyat dari Eropa, Krampus adalah sosok kebalikan dari Sinterklas. Jika Sinterklas memberikan kebahagiaan, maka Krampus mengambil kebahagiaan. Sinterklas membawa tawa dan sukacita, Krampus menebarkan kegelapan dan kekacauan. Sinterklas memberikan hadiah, Krampus mengambil jiwa.

ksj

Diceritakan Max (Emjay Anthony), seorang bocah yang masih percaya Santa hanya menginginkan Natal yang damai dan mengakrabkan semua anggota keluarganya. Menyadari dirinya bukan termasuk anak yang berkelakuan baik, maka ia pun mengirim surat permohonan kepada lelaki mitos berperut gendut itu. Meski menyenangi perayaan hari Natal, Max dan keluarganya cenderung enggan menerima kerabat mereka sendiri, yaitu keluarga Howard dan Linda.

Linda adalah adik Sarah, ibu Max. Keluarga Howard dan Linda dianggap aneh oleh Sarah dan Tom, suaminya. Begitu pula sebaliknya. Kedua keluarga ini bagaikan dua dunia yang berbeda.Suatu kali, surat permohonan kepada Santa dari Max menjadi bahan olok-olok sepupunya sendiri hingga mereka beradu pukul menjelang Natal. Pertengkaran ini membuat Max kecewa dan berharap Natal tak pernah ada.

5714_D028_00412_RV2_CROPV2

Permohonan Max terkabul. Mendadak langit berubah kelam dan terjadi badai salju yang teramat dahsyat. Namun itu baru awalan dari teror sesungguhnya, permohonan Max menjadi “panggilan” bagi suatu mitos yang bernama Krampus. Menghadapi makhluk mitologi tersebut, Max dan keluarganya berjuang menyelamatkan diri dari kejaran Krampus serta para pembantunya, yaitu hadiah Natal yang berubah menjadi monster mengerikan.

635769092314946068-5714-D029-00038R

Dougherty, sang sutradara merangkap penulis skrip, membuka film “Krampus” dengan sebuah sindiran paradoks dari Natal yang sebenarnya juga terjadi dengan Hari Raya lain, di mana orang berbondong-bondong mendahulukan kebutuhan sebagai seremonial belaka dibandingkan esensi Hari Raya itu sendiri.

Namun kondisi tersebut justru menjadi awalan yang tepat untuk membawa sosok Krampus ke dalam film. Krampus dikisahkan akan menghukum siapa pun yang bersikap nakal ataupun tidak menghayati kepercayaan Natal.
Demi menguatkan mitologi yang ada, Dougherty menggunakan sosok “pembantu” Krampus yaitu para mainan. Mainan ini biasanya bertampang lucu dan menggemaskan, namun jangan harap itu terjadi di pada film ini. Film ini sanggup membuat boneka badut memakan dua anak kecil hidup-hidup, dan kue jahe menembakkan paku kepada orang dewasa.

nwm8EtrkYJwXRj09LkpfVV0vE0O
Film ini diklasifikasikan PG-13 atau untuk usia 13 tahun ke atas. Anak-anak di bawah usia itu sebaiknya tidak diajak menonton Kramun, karena bentuk monster yang ditampilkan sanggup membuat anak-anak berpikir dua kali menjadikan boneka sebagai teman tidur. Sekilas, mainan berjiwa monster ini mengingatkan akan kehebatan Chucky menjadi mimpi buruk anak kecil.

Meski horror thriller, Dougherty masih menyelipkan bumbu komedi dalam film 98 menit ini. Meski komedi yang diselipkan bukan komedi yang sanggup membuat tertawa terbahak-bahak, namun setidaknya cukup membuat suasana segar walaupun sebenarnya adegan yang ditampilkan seharusnya bukan untuk ditertawakan.
Walaupun film ini tidak dapat dibilang film yang membuat bulu roma berdiri ataupun menjerit serta menutup mata, setidaknya cukup jadi mimpi buruk pada malam Natal bagi anak-anak. Untuk Flagers yang cukup penasaran dengan filmnya, langsung saja ya saksikan di bioskop-bioskop kesayangan kalian.

Comments and 2,245 views

Dimas Andra Saputra

Your Future Engineer │ Model United Nations │ Entertainment World

Related Posts

COMMENT

Leave a Reply