“Crimson Peak,” Menguak Misteri yang Terkubur dalam Kemegahan Kastil │ Movie Review

October 21, 2015

crimson-poster1

“Ghosts are real. That’s much i know” Inilah kalimat yang menjadi “gong” dari trailer perdana film gotik yang disutradarai oleh Guillermo Del Toro ini. Tak pelak, banyak dari kita yang awalnya menganggap bahwa film “Crimson Peak” adalah sebuah film horor, yang menceritakan tentang rumah atau kastil yang megah namun angker. Pada kenyataanya bukan hal horor atau semacamnya itulah yang menjadi sentral film ini. Del Toro selaku sutradara mengaku bahwa filmnya bukanlah film horor namun lebih ke arah romansa-gotik.

Hantu, darah dan cinta berpadu dalam film “Crimson Peak.” Mengambil latar penghujung abad 19, “Crimson Peak” menampilkan narasi hidup pemeran utama wanita Edith Cushing. Edith cilik (Sofia Wells) dikisahkan pernah melihat hantu, yang tak lain ibunya sendiri. Ada sebuah pesan yang disampaikan roh ibunda, yang selalu diingat Edith.

CrimsonPeakChastain

Beranjak dewasa, Edith (Mia Wasikowska) menjadi wanita cantik yang terobsesi menjadi seorang penulis novel. Edith jatuh cinta pada Thomas Sharpe (Tom Hiddleston), pendatang asal Inggris Raya. Ayah Edith, Carter (Jim Beaver) tak merestui hubungan antar keduanya. Namun setelah Carter meninggal secara mendadak, Edith akhirnya dinikahi Thomas dan meninggalkan tanah Amerika untuk tinggal di Inggris.

Edith yang berasal dari keluarga berada, tak masalah saat harus tinggal di kastil tua milik Thomas. Terlihat pula Edith berhati-hati untuk bersikap di depan kakak perempuan Thomas, Lucille (Jessica Chastain). Meski selalu menunjukkan sikap ramah, kesan dingin terpancar dari sosok Lucille. Edith mulai merasa tidak nyaman ketika kejadian demi kejadian mistis menerornya. Tak mendapat jawaban memuaskan dari Thomas, Edith mencari tahu sendiri misteri yang terkubur di kastil tua tersebut.

crimson-peak-10-1500x844

Disutradarai Guillermo del Toro, Crimson Peak menyuguhkan gambar menyeramkan dengan indah. Adegan berdarah-darah yang sebenarnya sadis pun, terpotret dengan elegan. Naskah yang digarap Del Toro bersama Matthew Robbins kurang mampu mengimbangi keindahan visual. Salah satu yang mengganjal, mengapa Edith terkesan menyepelekan kematian ayah yang sangat disayanginya?

screen-shot-2015-02-13-at-2-41-05-pm

Jika banyak orang yang kecewa dengan film ini, itu sebuah hal yang wajar. Ini dikarenakan banyak orang (khususnya penonton Indonesia) yang belum terbiasa dengan film macam ini. Yang mengira bahwa film “Crimson Peak” adalah sebuah film yang menyajikan jumpscares dan teror-teror menakutkan ala film-film horor kebanyakan. Namun, salah besar jika mengatakan bahwa film ini sedikit membosankan dikarenakan hal tersebut. Film “Crimson Peak” memberikan sebuah pendekatan yang berbeda, yang mana membuat kita dapat menyelami cerita dan karakter-karakter yang ada di dalamnya secara seksama. Emosi yang ditunjukkan pemain pun tak cukup kuat. Proses jatuh cinta antara Wasikowska-Hiddleston dalam beberapa adegan terasa layaknya opera sabun. Setidaknya ada Chastain, yang tampil meyakinkan dengan sikap misteriusnya sepanjang film. Namun, untuk Flagers yang penasaran dengan film “Crimson Peak,” langsung saja ya nonton di bioskop-bioskop kesayangan kalian!

Comments and 1,239 views

Dimas Andra Saputra

Your Future Engineer │ Model United Nations │ Entertainment World

Related Posts

COMMENT

Leave a Reply