Avengers: Infinity War, Ketika Para Superhero Mati-matian Melawan Thanos Bersama

April 26, 2018

Delapan belas film yang dipersiapkan Marvel Studios selama satu dekade terakhir-mulai Iron Man pada 2008 sampai yang terbaru Black Panther-mencapai final di Avengers: Infinity War. Film ini ditunggu-tunggu para penggemar Marvel bukan hanya karena mengumpulkan hampir seluruh pahlawan super mereka bersama. Film “Avengers: Infinity War” memang ujung dari penantian, perlawanan paling mati-matian mulai penjaga bumi, galaksi, sampai penyihir dan remaja yang disengat laba-laba, terhadap ancaman terbesar yang pernah ada pula.

Lebih dari 20 karakter pahlawan muncul di film ini. Mereka semua bersatu untuk melawan Thanos, makhluk ungu raksasa dari Titan yang yakin bahwa satu-satunya jalan menuju surga adalah menciptakan neraka. Ia hendak melenyapkan separuh populasi semesta demi menuju keseimbangan galaksi. Caranya: Infinity Stones. Enam batu keabadian yang terbentuk lewat ledakan Big Bang. Space Stone, Mind Stone, Reality Stone, Power Stone, Time Stone, dan Soul Stone.

Jika Thanos bisa mengumpulkan keenamnya dan meletakkan mereka di sarung tangan khusus miliknya, hanya  dengan mengepalkan tangan ia bisa mewujudkan kiamat semesta. Mengenyahkan ego masing-masing, para pahlawan super bersatu melintasi batas ruang, menghadapi Thanos.

Sutradara Anthony dan Joe Russo menyusun porsi peran tiap pahlawan super dengan sempurna. Mereka tak kehilangan taji dari filmnya masing-masing yang sudah berdiri sendiri sebelum infinity war meledak. Iron Man dengan segala teknologi yang dimilikinya. Doctor Strange dengan trik-trik penyihir dan permainan ruang, waktu dan pikirannya. Black Panther dengan vibranium dan pasukan Wakanda-nya. Scarlet Witch dengan lambaian tangannya. Captain America-atau kini ia lebih suka disebut Steve Rogers-dengan strategi dan komandonya.Bahkan Groot dengan sulur-sulur cabang pohonnya.

Hampir setiap dialog dan adegan dalam film ini merujuk pada film Marvel Cinematic Universe yang telah tayang. Saat Bruce Banner berkata, “Kejadian di New York, itu dia [Thanos]!” misalnya, ia merujuk pada Battle of New York yang dibawa Loki dan pasukan Chitauri dan akhirnya membentuk Avengers di The Avengers (2012). Saat Peter Quill membawa tim kecilnya ke Knowhere, penonton diajak mengingat sejarahnya dengan Sang Kolektor di Guardians of the Galaxy. Tentu saja, ketika Tony Stark mengakui dirinya dan Steve Rogers sedang “tidak saling berbicara,” ia mengenang pertempuran mereka di Captain America: Civil War (2016).

Dengan cemerlang, Marvel seakan memang sudah mempersiapkan timeline dari film-filmnya-yang disebut sebagian orang membuat industri perfilman pahlawan super membosankan-detail demi detail, selama satu dekade terakhir. Dan sekali lagi, semuanya berujung pada pertempuran pamungkas, infinity war. Avengers: Infinity War. It’s all been leading to this. Di antara emosi yang terombang-ambing karena dialog kocak dan patah hati karena kehilangan itu, penulis skenario juga memasukkan nilai-nilai yang menambah kaya film ini.

Kesetiakawanan, kekeluargaan, bahkan kekompakan sesama perempuan dari perkataan Black Widow, “dia tidak sendirian” saat Scarlet Witch diserang-seperti isu #MeToo di Hollywood. Mereka yang bukan penggemar Marvel dan tidak mengikuti MCU 10 tahun terakhir, sebaiknya mempersiapkan diri untuk menonton Infinity War. Bukan hanya karena ada banyak karakter yang ditampilkan sehingga mungkin akan membingungkan jika tak mengenal satu per satu.

Akan ada pula banyak detail yang, seperti sudah disinggung sebelumnya, merujuk pada film-film lain di dunia sinema yang diadaptasi dari komik garapan Stan Lee dan Jack Kirby. Tenang, masih ada waktu karena Avengers: Infinity War baru tayang di bioskop Indonesia hari ini, Rabu (25/4). So jangan sampai tidak nonton film “Avengers: Infinity War” ya Flagers!!

Comments and 65 views

Dimas Andra Saputra

Your Future Engineer │ Model United Nations │ Entertainment World

Related Posts

COMMENT

Leave a Reply