“Wonder Woman,” Lahirnya Pahlawan Super Tak Terkalahkan │ Movie Review

May 31, 2017

Pihak Warner Bros dan DC Comics semakin memperlebar sayap penjualan mereka dengan merilis film superhero wanita pertama mereka yang bertajuk “Wonder Woman.” Sebelum merilis filmnya, tokoh Wonder Woman yang diperankan oleh Gal Gadot ini telah diperkenalkan terlebih dahulu ketika muncul sebagai cameo dalam peperangan Batman melawan Superman dalam film “Batman vs Superman: Dawn of Justice.” Sayangnya, kemunculan Wonder Woman justru menambah deretan panjang buruknya penggarapan film DC Comics setelah era Christopher Nolan di trilogy “Batman: The Dark Knight.”

Dalam film “Wonder Woman,” akris cantik Gal Gadot akan berperan sebagai Diana, seorang putri dari Pulau Paradise atau suku Amazon yang telah dilatih berperang sejak masih kecil. Diana terlahir sebagai seorang wanita dengan kekuatan super, namun sang ibu Ratu Hippolyta (Connie Nielsen) tak ingin Diana tahu siapa jati dirinya sebenarnya karena takut Ares atau Dewa Peperangan dalam sejarah Yunani membunuhnya.

Diana tumbuh dan besar di kehidupan kuno membuat Diana tak tahu kehidupan di luar. Akan tetapi semua berubah ketika ia menemukan seorang pilot Steve Taylor (Chris Pine) terdampar di Pulau Paradise setelah dikejar oleh sekawanan pasukan Nazi. Steve memberitahu tentang peperangan dunia yang sedang berlangsung sengit di dunia luar, dunia yang masih sangat asing bagi Diana. Di satu sisi, Diana mulai tumbuh menjadi seorang wanita yang ingin menumpas kejahatan dan Ares. Diana pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke dunia luar bersama Steve dan menghentikan peperangan yang tidak ia pahami asal-usulnya. Steve dan Diana pergi ke London, Inggris, kota asal Steve yang sedang caruk-maruk dengan perang melawan Jerman.

Sejatinya film arahan Patty Jenkins ini cukup jelas membeberkan asal mula Diana dalam dunia superhero DC. Namun, cerita yang dibangun dari awal hingga pertengahan terasa kurang begitu kuat untuk memuaskan hasrat para pencinta film. Koreografi-koreografi dalam film terasa sangat biasa saja, nyaris tidak ada yang spesial. Efek visual yang diberikan pun terlihat tanggung dan tertinggal jauh dari film “Batman vs Superman: Dawn of Justice.”

Sementara untuk Gal Gadot sendiri, Wonder Woman menjadi sebuah loncatan besar dalam kariernya di dunia seni peran. Ia berhasil menunjukkan kemampuan terbaiknya ketika berakting dengan keluguan dan kepiawaiannya dalam bela diri. Tubuh indahnya terlihat sangat lincah ketika harus berhadapan dengan musuh-musuh yang datang menghampirinya.

Sayangnya, Wonder Woman tidak memiliki sebuah kekuatan cerita dan twist sehingga terasa membosankan selama 2 jam lebih pemutarannya. Pada bagian akhir film, Flagig memberikan sedikit bocoran tentang bagaimana Wonder Woman akhirnya akan tergabung dalam tim Justice League yang dipimpin oleh Batman/Bruce Wayne (Ben Affleck) dengan mengumpulkan The Flash (Ezra Miller) dan Aquaman (Jason Momoa).

Comments and 237 views

Dimas Andra Saputra

Your Future Engineer │ Model United Nations │ Entertainment World

Related Posts

COMMENT

Comments Closed