“Pacific Rim: Uprising,” Kembalinya Kisah Para Robot Raksasa Melawan Kaiju │ Movie Review

March 22, 2018

Film “Pacific Rim: Uprising” menjadi salah satu film yang paling ditunggu dibulan ini. Film pertamanya diarahkan oleh sutradara peraih Oscar, Gulielmo del Toro dan diputar pada 2013 lalu. Film pertama Pacific Rim ini berhasil meraup pendapatan 411 juta dollar AS (setara Rp 5,87 tiliun) dengan anggaran sekitar 190 juta dollar AS (Rp 2,7 triliun). “Pacific Rim: Uprising” merupakan sekuel dari pertarungan antara robot raksasa Jaeger dengan kumpulan monster bernama Kaiju. Namun kali ini, “Pacific Rim: Uprising” digarap oleh orang yang bebeda, yakni Steven S DeKnight. Sedangkan del Toro masih terlibat sebagai salah satu produser.

Film ini mengangkat kisah 10 tahun setelah kejadian pertama dari sudut pandang Jake Pentecost (John Boyega). Kala itu, dunia sudah bebas dari serangan Kaiju. Meski begitu, sejumlah robot raksasa Jaeger masih dioperasikan. Tentunya operasi tersebut sesuai dengan peraturan Undang Undang. Jeke Pentecost merupakan anak kandung Stacker Pentecost, ranger pengendara Jaeger Striker Eureka yang gugur karena mengorbankan diri demi menutup celah Kaiju pada film pertama.

Sayangnya, Jake hidup dalam bayang-bayang sang ayah. Dia memiliki kehidupan yang suram karena banyak melakukan tindak kriminal. Hidup Jake berubah ketika ia bertemu dengan seorang remaja perempuan yang memiliki kemampuan merakit Jaeger, Amara Namani. Di saat yang sama, dunia kembali terancam dengan kehadiran Kaiju yang kembali muncul dengan cara berbeda dan tidak terduga.

Pertama kali menonton “Pacific Rim: Uprising,” terbersit pemikiran bahwa konsep from zero to hero bakal diusung lewat film ini. Sayangnya, tebakan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Setiap karakter yang terdapat pada film tersebut berkembang sesuai dengan berlangsungnya cerita. Namun, konflik personal dan latar belakang pada tiap karakter hanya diceritakan sekilas. Pasalnya, film kedua Pacific Rim ini lebih memberi perhatian pada keberlangsungan dunia pasca-serangan Kaiju 10 tahun lalu.

Tidak sepeti yang disajikan oleh Pacific Rim pertama yang menitikberatkan perkembangan karakter sebagai pelatuk bagi kelangsungan cerita. Walau begitu, seluruh tokoh pada film ini memiliki porsi yang seimbang. Seingga keberadaan mereka dalam film ini tidaklah sia-sia. Robot raksasa andalan yang menjadi ikon film ini, Jaeger juga tampak sekedar pelengkap dibandingkan karakter manusia yang ada pada film tersebut. Jika pada film pertama keberadaan Jaeger berguna bagi kelangsungan hidup manusia, dalam “Pacific Rim: Uprasing” Jaeger sama sekali tidak mengalami kemajuan. Jalan cerita Pacific Rim: Uprising bisa dibilang cukup baik. Walau penyampaiannya tergolong cepat. Terutama pada bagian pertempuran akhir antara Kaiju dan Jaeger. Meskipun pada dasarnya pertarungan yang dilakukan masih masuk akal.

Meski begitu, film ini tetap memberikan sejumlah kejutan bagi penonton selama berlangsungnya jalan cerita. Pasalnya, penonton tidak akan menduga siapa dalang di balik serangan Kaiju yang muncul secara tiba-tiba. Konflik general yang terdapat pada film tersebut pun disajikan sejara beruntun. Hal menarik lainnya ada dalam bonus after-credit. Pada bagian tersebut, sang tokoh utama menyampaikan bahwa Pacific Rim akan kembali lewat film ketiganya. Tentunya, dengan konflik yang lebih baik. Bagi Anda yang menyukai tayangan aksi, film ini masih layak untuk direkomendasikan. Pacific Rim: Uprising tayang perdana di bioskop Indonesia pada 21 Maret 2018. Penasaran dengan film ini? Silakan tonton aksi Jaeger di bioskop terdekat.

Comments and 129 views

Dimas Andra Saputra

Your Future Engineer │ Model United Nations │ Entertainment World

Related Posts

COMMENT

Comments Closed